KLASIFIKASI ILMU PENGETAHUAN






SURYANINGSIH (16518882)
1PA10
UNIVERSITAS GUNADARMA


A. Definisi Ilmu dan Ilmu Pengetahuan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ilmu adalah pengetahuan atau kepandain, baik yang termasuk jenis kebatinan, maupun yang  berkenaan dengan keadaan alam dsb.
Selain itu, beberapa tokoh telah menuliskan definisi ilmu antara lain sebagai berikut :
1. Menurut Nazir (1988), Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis,
pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil – dalil tertentu menurut kaidah –  kaidah umum.

2. Menurut Shapere (1974),  Konsepsi ilmu pada dasarnya mencangkup tiga hal yaitu
adanya rasionalitas, dapat diregeneralisasi dan dapat disistemasi.

3. Menurut Schulz (1962), Pengertian ilmu mencangkup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial.
Secara garis besar, ilmu merupakan suatu kumpulan proses dengan menggunakan suatu metode ilmiah yang menghasilkan suatu pengetahuan yang sistematis.
Secara etimologi ilmu berasal dari kata “ilm” (Bahasa Arab), science (Bahasa Inggris) atau Scienta (Bahasa Latin) yang mengandung kata Sciere yang berarti tahu atau mengetahui. Lalu apa perbedaan ilmu dengan pengetahuan? Pengetahuan merupakan padan dari kata Knowledge merupakan kumpulan fakta – fakta, sedangkan ilmu adalah pengetahuan ilmiah/sistematis. Kumpulan fakta –fakta tersebut merupakan bahan dasar dari suatu ilmu, sehingga pengetahuan belum dapat dikatakan sebagai ilmu, namun ilmu pasti merupakan pengetahuan.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, yang dimaksud Ilmu Pengetahuan adalah suatu bidang yang disusun sistematis berdasarkan metode tertentu, untuk dimanfaatkan sebagai penjelas gejala tertentu. (Admojo, 1998).
Menurut “ensiklopedia Indonesia” ilmu pengetahuan adalah suatu sistem ari berbagai pengetahuan yang masing – masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan – pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode – metode tertentu. Ilmu pengetahuan prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan
mensistematiskan common sense, suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari – hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan berbagai metode.
Jadi dapat disimpulkan, ilmu pengetahuan itu konkrit dan tidak terbatas yaitu dapat diukur kebenarannya. Kehadiran objek dan subjek tidak dapat dipisahkan atau memiliki keterkaitan satu sama lainnya.

B. Sejarah Ilmu Pengetahuan
1. Sejarah Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Yunani Kuno
Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad VI SM. Diantara tahapan-tahapan sejarah lahirnya Ilmu Pengetahuan yaitu sebagai berikut:
a. Pada Zaman Keemasan (1200 SM)
Zaman keemasan Yunani kuno ialah periode “kaisar-kaisar bijaksana”, tatkala Yunani diperintah dengan alim dan murah hati. impian zaman keemasan di Yunani Kuno mengacu pada kebudayaan Minos-Misena, yang pudar pada masa Perang Troya (kira-kira 1200 S.M.). Zaman itu merupakan inspirasi untuk perekaan mitos-mitos Yunani.

b.  Mitos (900 SM)
Perkembangan yang paling signifikan berikutnya dalam sejarah Yunani adalah penciptaan epos-epos Homer (kira-kira 900 S.M.), yang bahan-bahannya meluncur dari kompleks mitos ini. Pada masa ini mitos berkembang dengan pesat dikalangan masyarakat Yunani.

c.  Sastra (600 SM)
Epos-epos ini mengalihkan pelbagai mitos yang tak teratur menjadi bentuk yang puitis, sehingga makna mitos menjadi lebih gamblang.

d. Filsafat (300 SM)
Manusia belum mencapai wujud modern menurut Jaynes, baru “pada abad keenam S.M.” pola pikir primitif tergusur oleh “akal budi subyektif” pada sekitar waktu itulah tampil filsuf pertama di Yunani Kuno, yang bernama Thales (kira-kira 624-546 S.M.).

e.  Ilmu
Kegiatan filosofis diikuti oleh Aristoteles (384-322 S.M.). dialah filsuf utama Yunani yang mula pertama membangun suatu sudut pandang “ilmiah”, dalam pengertian yang modern.

Filsafat lahir dari mitos, Jalan yang mengarah dari mitos menuju ilmu, melalui sastra dan filsafat disebut “demitologisasi”
• Mitos menggunakan imajinasi untuk mengungkap keyakinan.
• Sastra memakai gelora jiwa untuk mengungkap keindahan.
• Filsafat memanfaatkan pemahaman untuk mengungkap kebenaran,
• Ilmu (science) menerapkan penimbangan untuk mengungkap pengetahuan.
Pada hakikatnya kelahiran cara berpikir ilmiah itu merupakan suatu revolusi besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Pada awalnya pola pikir manusia mengandalkan gagasan-gagasan magi dan mitologi (mitos) yang tidak rasional dan bersifat gaib.
Untuk lebih jelasnya definisi mitos atau mistik yaitu: keyakinan, dorongan atas kekuatan sesuatu yang sulit diukur di luar kemampaun diri manusia dan atau sikap pandang sakralitas yang menamfikan realitas.
Kemudian terjadilah perubahan pola pikir manusia menjadi logosentris. Dari proses inilah ilmu dan peradaban manusia makin berkembang.
Pola pikir manusia yang primitif menjadi pola pikir akal budi subjektif karena manusia ini mempunyai naluri (rasa penasaran) ingin mencari kebenaran sehingga manusia banyak bertanya apa yang diyakininya dari sinilah manusia mampu membedakan mana yang riil dan yang mana ilusi pada akhirnya tiba pada kebenaran yang absolut atau causa prima.

2. Sejarah Ilmu Pengetahuan Pada zaman Islam
Dalam dunia Islam, ilmu bermula dari keinginan untuk memahami wahyu yang terkandung dalam Al-Qur’an dan bimbingan Nabi Muhammad SAW mengenai wahyu tersebut. Al-‘ilm itu sendiri dikenal sebagai sifat utama Allah SWT.
Dalam bentuk kata yang berbeda, Allah SWT disebut juga sebagai al-‘Alim dan ‘Alim, yang artinya “Yang Mengeta¬hui” atau “Yang Maha Tahu.” Ilmu adalah salah satu dari sifat utama Allah SWT dan merupakan satu-satunya kata yang komprehensif serta bisa di¬gunakan untuk menerangkan pengetahuan Allah SWT.
Islam memandang sumber utama dan penguji akhir ilmu pengetahuan ada tiga, yang pertama panca indera (empiris), kedua akal (rasional), dan yang ketiga adalah wahyu (otoritas). Dan inilah yang akan membangun peradaban Islam.
Pertama kali Adam diciptakan, Allah mengajarinya tentang nama-nama. Dan inilah ilmu pertama manusia yang membentuk peradaban umat manusia di bumi sampai saat ini.
Pentingnya Ilmu pengetahuan tumbuh bersama dengan munculnya Islam itu sendiri ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama yaitu Qs. Al-Alaq 1-5.[3] dari awal turunnya wahyu ajaran Islam meletakkan semangat keilmuan yang sangat penting di dalam kehidupan umat manusia untuk memperoleh ilmu sebab ilmu merupakan tujuan utama.

Perkembangan ilmu dalam Islam yaitu sebagai berikut:
1. Pendekatan kaum muslimin terhadap wahyu dalam menghadapi suatu situasi dimana mereka hidup.
2. Hadirnya Nabi SAW ditengah-tengah kaum muslimin sebagai pimpinan dan tokoh sentral menyebabkan semua situasi dan persoalan-persoalan yang muncul dipulangkan dan diselesaikan oleh Nabi SAW.
3. Adanya generasi tabi’in dan tabiit tabiin (tabi’at – tabi’in) dengan semangat wahyu yang diserap penilaian terhadap situasi baru lebih bercorak intelektual mereka menggunakan metode.

Menurut Amsal Bakhtiar sejarah perkembangan ilmu dalam Islam dibagi kedalam beberapa zaman yaitu sebagai berikut.
1. Penyampaian Ilmu dan Filsafat Yunani Kedunia Islam
Didunia Islam pada dasarnya terdapat upaya rekonsilasi dalam arti mendekatkan dan mempertemukan dua pandangan yang berbeda pandangan filsafat dengan pandangan keagamaan dalam Islam yang seringkali menimbulkan benturan. Yang menunjukan keberhasilan Islam dalam menemukan dan mengembangkan Ilmu pengetahuan yaitu sebagai berikut:

• Upaya menterjemahkan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu seperti Yunani, Romawi, dan Persia serta naskahyang ada di Timur tengah dan Afrika seperti Mesopotamia dan Mesir.
• Kaum muslim bertemu dengan kebudayaan dan peradaban yang telah maju dari bangsa-bangsa yang mereka taklukan.
• Adanya pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh kelompok Mawali atau
orang-orang non Arab (Persia) yang bertempat di Masjid Bashrah yang terdiri dari Halaqat-Halaqat.

2. Perkembangan Ilmu Pada Masa Islam Klasik.
Pada masa ini terjadi fitnah al-Kubro yang membawa perubahan besar bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu di dunia Islam. Yang memunculkan berbagai aliran politik dan aliran teologi. Yaitu sebagai berikut:
– Syiah yang membela Ali
– Alran khawarij
– Muawiyah
– Abdullah Ibn Umar dan Abdullah Ibn Abbas yang mencurahkan terhadap ilmu pengetahuan (hadits dan Ilmu Tafsir).

Masuknya unsur-unsur dari luar kedalam Islam yaitu unsur- unsur budaya perso-semitik (Zoroastrianisme khususnya Mazdaisme, yahudi dan kristen) dan budaya Hellenisme. Argumen-argumen Hellenisme menjadi penengah dari pandangan dikhotomi.

3. Perkembangan Ilmu Pada Masa Kejayaan Islam
The Golden Age of Islam terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbas (Abbasiyah), yang sangat terbuka terhadap perkembangan berbagai pemikiran baru. Bersamaan dengan dilarangnya belajar-mengajar filsafat, umat Islam mengalami kemunduran, hingga terpuruk ke dalam belenggu penjajahan Negara-negara Barat (Dark Age).

Timbulnya kesadaran baru di kalangan umat Islam untuk keluar dari belenggu penjajahan, tidak lepas dari keberanian beberapa pembaharu dunia Islam seperti Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh, yang menganjurkan agar umat Islam kembali mempelajari filsafat dan membuka diri kepada munculnya ide-ide baru.
Upaya-upaya umat Islam untuk membangun kembali ilmu pengetahuan yaitu sebagai berikut:
• Menterjemahkan karya-karya filosof Yunani kedalam bahasa Arab. Buku-buku kuno mengenai kedokteran, bidang Astronomi (siddhanta, Quadripartitus).
• Membangun Bait al-Hikmah yang terdiri dari perpustakaan, observarium dan departemen penerjemahan.
• Adanya penelitian dan karya-karya pada masa keekamasan (kejayaan Islam).

4. Masa Keruntuhan Tradisi Keilmuan dalam Islam
Abad ke 18 merupakan sejarah yang menyedihkan bagi umat Islam ini di sebabkan yaitu sebagai beikut: :
• Diterimanya faham Yunani mengenai realitas yang pada pokoknya bersifat statis, sementara jiwa Islam adalah dinamis dan berkembang.
• Persepsi yang keliru dalam memahami pemikiran Al-Ghazali yang menawarkan pemikiran ilmiah, rasional dan pengamatan, analisis, sifat skeptik.
• Bersikap dogmatis dan taklid secara membuta.
• Para penguasa merasa terancam dengan adanya pendidikan dan pengetahuan yang dapat merongrong kekuasaanya.
• Kesulitan-kesulitan ijtihad dan mistisme asketik.

3. Sejarah Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Renaisans dan Modern.
Nama renaissance digunakan untuk menandai masa-masa antara abad ke 16 dan dimatangkan abad ke 18, kata renaissance sendiri berasal dari bahasa perancis yang arti harfiahnya adalah kelahiran kembali. Istilah ini mengandung arti bahwa terdapat sesuatu yang pernah ditinggalkan atau dilupakan orang dan sekarang lahir atau mulai dipakai kembali.
Pada zaman ini secara berangsur-angsur melepaskan diri dari otoritas kekuasaan gereja yang selama ini telah membelenggu kebebasan filsafat dan ilmu. Ciri awal renaissance yaitu Semangat bebas mempelajari segala sesuatu dan mengemukakan pendapat pribadi dengan menggunakan pendapat pribadi dengan menggunakan bahasa sehari-hari.

Zaman renaisans memandang manusia dua pandangan yaitu antroposentris yaitu :
1. Naturalistis manusia dilihat menurut kodratnya sendiri yang berbeda dengan kodrat binatang yaitu sebagai makhluk berakal budi dan berkehendak bebas. Dengan mengembangkan akal budinya manusia dapat memiliki pengetahuan yang dalam tentang lingkungannya, mempertimbangkan tindakannya dan mempertanggung jawabkannya.
2. Menurut pandangan individualistis manusia adalah suatu individu yaitu unit yang berdiri sendiri dan karena itu sempurna. Dengan ciri manusia memiliki kemampuan untuk menguasai lingkungannya dan untuk selanjutnya menguasai dunia.
Kedua pandangan tersebut membangkitkan rasa percaya diri yang besar di dalam diri orang-orang zaman ini maka dengan kemampuan masing-masing mencoba mengembagkan diri dan hidupnya.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern di awali dengan epstemologi keilmuan yaitu kebenaran dilandai corak teologis yang natural, dinamik, teratur, runtut dan dapat dibuktikan secara empirik rasional. Sehingga muncullah ilmu – ilmu sosial.


4. Sejarah Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Kontemporer
Yang dimaksud dengan zaman kontemporer adalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat sekarang ini. Ilmu kontemporer tidak segan- segan melakukan dekontruksi dan peruntuhan terhadap teori – teori ilmu yang pernah ada untuk kemudian menyodorkan pandangan-pandangan baru dalam rekontruksi ilmu yang mereka bangun.
Dalam penyusunan ilmu pengetahuan haruslah mengumpulkan sebanyak mungkin fakta pengalaman untuk dianalisis.
Beberapa contoh ilmu pengetahuan zaman kontemporer yaitu :
1. Santri, Priyayi, dan Abanga. : Kerangka tipologis keberagamaan Jawa, yaitu hubungan stuktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol. Tiga lingkungan yang berbeda yang dibarengi latar belakang masuknya agama serta paradaban hindu dan Islam di Jawa. Santri (yang menekankan aspek-aspek Islam), Priyayi (yang menekankanaspek-aspek hindu), Abangan (yang menekankan pentingnya animistik).
2. Teknologi Rekayasa Genetika.
3. Teknologi Informasi.
4. Teori Partikel Elementari
Bagaimana suatu persoalan dirumuskan, ditelaah, bagaimana jawaban-jawaban dan pertanyaan-pertanyaan selalu diformulasi kembali sepanjang jaman, hanya dalam rangka mencari kebenaran untuk kemaslahatan kehidupan manusia untuk mecapai pemikiran yang lebih baik. Sejarah adalah sejarah yang tidak mungkin dihapus.
Adanya sesuatu hari ini mau tak mau, suka tak suka adalah sebagai akibat dari kontak dengan masa lalu. Di sinilah ilmu pengetahuan dari titi awal sampai mencapai perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat.
Pemikiran- pemikiran para filsuf, adalah merupakan harta dunia yang tiada terbilang nilainya. Jelas ia memberi sumbangan bagi kemajuan berpikir berikutnya.

Sumbangannya bagi sejarah peradaban dunia patut untuk disampaikan senantiasa oleh kita yang hidup di jaman yang katanya modern ini; minimal sebagai ungkapan terima kasih kita kepada mereka, yang pemikirannya langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan kita hari ini.

 B.  Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan semangat zaman terdapat banyak perdagangan yang terkait dengan klasifikasi ilmu pengetahuan yang kita temui. Ilmu pengetahuan menurut subyek dan obyeknya.
1.Menurut subyeknya
a. Nomotetis adalah ilmu yang menetapkan hukum – hukum yang universal berlaku, mempelajari obyeknya dalam keabstrakannya dan mencoba menemukan unsur – unsur yang selalu terdapat kembali dalam segalan pernyataan yang konkrit. Misalnya, Ilmu alam, ilmu kimia, sosiologi, ilmu hayat, dsb.
Ideografis (ide: cita-cita, grafis: lukisan), ilmu yang mempelajari obyeknya dalam konkrit menurut tempat dan waktu tertentu, dengan sifat-sifatnya yang menyendiri (unik) . Misalnya, Ilmu sejarah, etnografi (ilmu bangsa-bangsa), sosiologi dsb.

b. Praktis (applied science/ilmu terapan)
Yaitu ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau pengalaman pengetahuan itu,jadi menentukan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, maka iapun diperinci lebih lanjut yaitu :

Normatif, ilmu yang memesankan bagaimanakah kita harus berbuat, membebankan kewajiban – kewajiban dan larangan- larangan misalnya : etika (filsafat kesusilaan/filsafat moral)
Positif,(applied dalam arti sempit) yaitu ilmu yang mengatakan bagaimanakah orang harus berbuat sesuatu, mencapai hasil tertentu. Misalnya adalah ilmu pertanian, ilmu teknik, ilmu kedokteran, dsb.


2. Menurut obyeknya
1. Universal/umum: meliputi keseluruhan yang ada. Seluruh hidup manusia, misalya : teologi/agama dan filsafat.
2. Khusus : hanya mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan manusia, jadi obyeknya terbatasi. Inilah yang biasanya disebut “ilmu pengetahuan”
Menurut Prof.Dr.Harsya Bacthiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan
dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu :
1. Ilmu-ilmu alamiah (natural science)
   Ilmu-ilmu alamiah bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji hal itu digunakkan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk menentukan suatu kualitas. Hasil analisis itu kemudian di generalisasikan. Atas dasar ini lalu dibuat prediksi. Hasil penelitiannya 100% benar dan 100% salah. Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran, mekanika.
2. Ilmu-ilmu sosial (social science),
    Ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Untuk mengkaji hal itu digunakkan metode ilmiah sebagai pinjaman dari ilmu-ilmu alamiah. Tetapi hasil penelitiannya tidak mungkin 100 benar, hanya mendekati kebenaran. Sebabnya ialah keteraturan dalam hubungan antar manusia itu tidak dapat berubah saat ke saat. Yang termasuk ilmu-ilmu sosial angtara lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, antropologi sosial, sosiologi hukum,dsb.

3. Pengetahuan Budaya (the humanities)
    Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungapan peristiwa-peristiwa dan pernyataan-pernyataan itu pada umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan. Metode ini tidak ada sangkut pautnya dengan metode ilmiah, hanya mungkin ada pengaruh dari metode ilmiah.

C. Karakteristik Ilmu Pengetahuan
  Ilmu pengetahuan mempunyai sifat, antara lain :
1.Sistematik
2. Konsisten (antara teori satu dengan yang lain tak bertentangan)
3. Ekspilit (disepakati dapat secara universal, bukan hanya dikalangan kecil)
Ilmiah, benar (pembuktian dengan metode ilmiah)

  Ilmu pengetahuan mempunyai ciri-ciri umum yaitu:
Obyek ilmu pengetahuan adalah empiris.
Ilmu pengetahuan mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu mempunyai sistematika.
Ilmu dihasilkan dari pengamatan, pengalaman studi dan pemikiran.
Sumber segala ilmu adalah Tuhan, karena Dia yang menciptakannya.

Fungsi ilmu adalah untuk keselamatan, kebahagiaan, pengamanan manusia dari segala sesuatu yang menyulitkan.

Van Melsen mengemukakan beberapa ciri yang menandai ilmu,  sebagaimana yang dikutip Rizal Muntasyir dan Misnal Munir, yaitu:
1. Ilmu pengetahuan secara metodis harus mencapai keseluruhan yang secara logis koheren. Itu berarti adanya sistem dalam penelitian (metode) maupun harus (susunan logis).
2. Ilmu pengetahuan tanpa pamrih, karena hal itu erat kaitannya dengan tanggung jawab ilmuwan.
3. Universalitas ilmu pengetahuan.
4.Objektivitas, artinya setiap ilmu terpimpin oleh objek dan tidak didistorsi oleh prasangka-prasangka subjektif.
5. Ilmu pengetahuan harus dapat diverifikasi oleh semua peneliti ilmiah yang bersangkutan, karena ilmu pengetahuan harus dapat dikomunikasikan.
6.Progresifitas, artinya suatu jawaban ilmiah baru bersifat ilmiah sungguh-sungguh, bila mengandung pertanyaan-pertanyaan baru dan menimbulkan problem-problem baru lagi.
7. Kritis, artinya tidak ada teori ilmiah yang difinitif, setiap teori terbuka bagi setiap peninjauan kritis yang memanfaatkan data-data baru.
8. Ilmu pengetahuan harus dapat digunakan sebagai perwujudan kebertautan antara teori dengan praktis.
Jadi setiap ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan bila memiliki ciri-ciri atau karakteristik umum diatas. Sementera itu mengenai karakteristik khusus ilmu pengetahuan setelah adanya klasifikasi ilmu pengetahuan akan diterangkan kemudian.

D. Contoh Ilmu Pengetahuan
      Menurut Prof. Dr. Harsya Bachtiar mengemukakan bahwa ilmu dan pengetahuan dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu Ilmu-ilmu Alamiah (natural science), Ilmu-ilmu Sosial (social science), Pengetahuan budaya (the humanities). Berikut adalah contoh ilmu pengetahuan pada masing – masing kelompok tersebut :
1.      Ilmu-ilmu Alamiah (natural science)
Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu alamiah antara lain ialah astronomi, fisika, kimia, biologi, kedokteran, mekanika.
2.      Ilmu-ilmu Sosial (social science)
Yang termasuk kelompok ilmu-ilmu sosial antara lain ilmu ekonomi, sosiologi, politik, demografi, psikologi, antropologi sosial, sosiologi hukum, dsb.
3.      Pengetahuan budaya (the humanities)
Pengetahuan budaya (The Humanities) dibatasi sebagai pengetahuan yang mencakup kcahlian (disiplin) scni dan filsafat. Keahlian inipun dapat dibagi-bagi lagi ke dalam berbagai bidang kcahlian lain, seperti seni tari, seni rupa, seni musik, dll.

Contoh:
Bahasa adalah ilmu, maka bahasa berlaku umum dan sistematis. Kapan pun, di mana pun, siapa pun; jika ingin belajar bahasa apa pun; harus melalui tahap mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini membuktikan bahwa bahasa mempunyai sifat umum dan sistematis yang dijadikan dasar/acuan.
Jadi, siapa guru bahasa? Guru bahasa adalah ilmu bahasa itu sendiri, sedangkan pengajarnya adalah pemangku/pengampu/penghubung ilmu bahasa.
Pengetahuan yang mulanya bersifat individual/kelompok dapat diusahakan dan akan menjadi ilmu, lengkap dengan sifat-sifatnya, apabila telah diuji dan dikaji.

Contoh:
Perdukunan, ilmu batin; yang pelakunya sering dipanggil paranormal sudah diakui kebenaran dan manfaatnya. Karena sifatnya masih individual/ kelompok dan tidak sistematis serta tidak terbuka, maka orang yang akan mempelajarinya harus mencari guru sendiri. Guru merupakan acuan yang harus diikuti karena guru merupakan itu sendiri (lain guru lain ilmu). Jadi, pengetahuan dapat dijadikan ilmu.

Daftar Pustaka
http://adeyuliyanti.blogspot.co.id/
https://muhfathurrohman.wordpress.com/2012/10/18/karakteristik-dan-klasifikasi-ilmu-pengetahuan/
https:muhammadfauziali.wordpress.com/2013/04/23/tugas-1-definisi-ilmu-pengetahuan/
https://pitryprasetyamulya.blogspot.com/2014/11/klasifikasi-ilmu-pengetahuan.html?m=1
Ebook ilmu budaya dasar Universitas Gunadarma

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UPACARA ADAT PERNIKAHAN ADAT SUNDA

DAMPAK KEBUDAYAAN ASING TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT

Jeritan Terpendam Dalam Hati